BEKASI — Kecelakaan maut antara Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam, bermula dari insiden di perlintasan sebidang yang melibatkan sebuah taksi berwarna hijau.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 20.50 WIB dan mengakibatkan korban jiwa serta puluhan penumpang luka-luka. Hingga kini, penyebab pasti masih dalam penyelidikan otoritas terkait.

Kronologi awal menunjukkan sebuah taksi diduga mogok atau berhenti di jalur perlintasan dekat kawasan Bulak Kapal, tidak jauh dari Stasiun Bekasi Timur.
Gangguan ini berdampak langsung pada operasional kereta di jalur tersebut.
“Ada taksi yang menemper KRL di perlintasan, membuat KRL terhenti,” ujar Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo.
Akibat insiden tersebut, rangkaian KRL relasi Jakarta–Cikarang terpaksa berhenti di jalur stasiun sebagai langkah pengamanan karena lintasan di depan tidak aman dilalui.

Dalam kondisi KRL berhenti, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang tidak memiliki cukup waktu dan jarak untuk melakukan pengereman.
“KRL berhenti, di belakangnya ada Kereta Argo Bromo,” kata Franoto.
Benturan keras pun terjadi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur. Bagian paling parah terdampak adalah gerbong belakang KRL yang mengalami kerusakan signifikan.
Data awal mencatat sedikitnya 14 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
Selain faktor kendaraan di perlintasan, insiden ini juga diduga berkaitan dengan gangguan sistem persinyalan setelah KRL sebelumnya menabrak taksi tersebut.
Akibat gangguan tersebut, perjalanan KRL terganggu dan berhenti di jalur, sebelum akhirnya ditabrak KA jarak jauh dari belakang.
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah menyerahkan penyelidikan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk memastikan penyebab utama kecelakaan.
Proses evakuasi korban berlangsung sepanjang malam dengan melibatkan tim gabungan dari Basarnas, kepolisian, dan PT KAI. Sejumlah korban dilaporkan sempat terjepit di dalam gerbong yang ringsek.
Petugas menggunakan peralatan khusus untuk memotong badan gerbong guna menyelamatkan korban yang terperangkap.
Peristiwa ini kembali menyoroti kerentanan perlintasan sebidang dalam sistem transportasi nasional. Kehadiran kendaraan di jalur rel menjadi faktor risiko tinggi yang dapat memicu kecelakaan berantai.
Dengan investigasi yang masih berlangsung, publik menunggu kejelasan apakah insiden ini murni akibat kelalaian di perlintasan atau juga dipengaruhi oleh kegagalan sistem pengamanan perjalanan kereta.










