Palangka Raya – Langit pagi di pedalaman Kalimantan Tengah biasanya masih jernih ketika sebuah ritual adat dimulai. Di tanah yang telah dipersiapkan, tetua adat duduk menghadap arah matahari terbit. Beras kuning ditaburkan. Doa dilantunkan. Pandangan kemudian diarahkan ke langit, menunggu sesuatu yang bagi orang luar mungkin hanya tampak sebagai seekor burung elang.
Namun bagi masyarakat Dayak, khususnya Dayak Katingan, kemunculan antang tajahan bukan sekadar peristiwa biasa. Ia menjadi bagian dari Manajah Antang, sebuah ritual tradisional untuk mencari pertanda atau petunjuk ketika masyarakat menghadapi persoalan penting. Tradisi ini dikenal sebagai warisan yang berlangsung turun-temurun.
Manajah Antang berasal dari kata tajah, yang bermakna tanda atau alamat. Sementara manajah berarti mencari pertanda atau petunjuk. Adapun antang dalam bahasa Dayak Katingan merujuk pada burung elang yang dipercaya memiliki kedudukan khusus dalam ritual tersebut.
Menurut kajian Sumiatie tentang masyarakat Dayak Katingan di Kasongan, ritual ini tidak semata berkaitan dengan peperangan. Masyarakat juga menggunakannya untuk mencari petunjuk mengenai tempat berladang, arah merantau, lokasi membangun permukiman, perjalanan jauh hingga menghadapi musibah.
Dalam penelitian itu, Kiwok D. Rampai menjelaskan Manajah Antang sebagai:
“Upacara tradisional dengan mengundang burung elang dengan mempelajari gerak gerik dan tingkah laku dari burung elang ini memberikan tanda-tanda tentang apa yang akan terjadi.”
Karena itu, perhatian dalam ritual tidak berhenti pada kehadiran burung. Para tetua adat mengamati gerak-geriknya dan menafsirkan tanda tersebut sesuai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.
Dalam catatan sejarah budaya, Manajah Antang pernah dikaitkan dengan kebutuhan mencari keberadaan musuh ketika terjadi peperangan. Tetapi ruang maknanya jauh lebih luas. Ia menjadi cara masyarakat meminta petunjuk ketika berhadapan dengan keadaan yang sulit dipastikan.
Sumiatie mencatat bahwa bagi masyarakat Dayak Katingan, ritual tersebut dipercaya dapat membantu mengatasi kesulitan, memberikan rasa aman, petunjuk, keselamatan dalam perjalanan, bahkan membantu menentukan tempat yang dianggap baik untuk membuka lahan.
Seorang Demang Kepala Adat yang dikutip dalam penelitian tersebut mengatakan, “biasanya upacara ini dilaksanakan pada pagi hari sampai menjelang tengah hari saat matahari naik.”
Kini Manajah Antang tidak hanya menjadi cerita tentang masa lalu. Ritual ini masih dikenal dan dilaksanakan dalam konteks kebudayaan serta keagamaan masyarakat Dayak dan Kaharingan.
Di tengah perubahan zaman, Manajah Antang menyimpan satu hal yang menarik: cara sebuah masyarakat membaca hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan kehidupan bersama.
Bagi wisatawan atau generasi muda, mungkin seekor elang yang melintas hanya terlihat sebagai bagian dari langit Kalimantan. Tetapi bagi pemilik tradisinya, gerak itu pernah menjadi bahasa. Dan selama masih ada orang yang memahami maknanya, bahasa tersebut belum benar-benar hilang.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.






