PALANGKA RAYA, 4 Mei 2026 – Fenomena “pohon berbuah uang” yang sering terlihat dalam acara pernikahan adat di Kalimantan Tengah belakangan ini, ternyata bukan sekadar tren sesaat, melainkan kebangkitan dari nilai-nilai luhur budaya leluhur yang memiliki makna mendalam. Tradisi yang kini sering disebut dengan istilah “Handep” atau dikenal secara tradisional sebagai “Sangkai Kambang” ini kembali digelorakan sebagai wujud nyata kerukunan dan gotong royong masyarakat Dayak.
Ketua Umum DPP Aliansi Dayak Bersatu (ADB) Kalimantan Tengah, Megawati, menegaskan bahwa budaya ini wajib dilestarikan karena memiliki tujuan yang sangat mulia dan positif, jauh berbeda dengan kebiasaan buruk yang tidak mendidik.

Banyak yang melihat “pohon uang” ini hanya sebagai hiasan atau pamer kekayaan, namun menurut Megawati, maknanya jauh lebih dalam daripada itu.
“Itu bukan sekadar pamer, ini adalah warisan nenek moyang kita yang disebut Sangkai Kambang atau sekarang sering disebut Handep. Tujuannya mulia, yaitu membantu keluarga yang baru menikah untuk mendapatkan modal awal memulai kehidupan baru,” jelas Megawati dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Dalam budaya aslinya, uang atau barang yang digantungkan pada pohon tersebut bukanlah pemberian cuma-cuma. Sistem ini bekerja layaknya sistem simpan pinjam atau tolong-menolong yang terikat norma adat.

“Yang menerima wajib membayar kembali saat si pemberi nanti mengadakan hajatan, baik itu pernikahan anak atau acara besar lainnya. Jadi ini adalah budaya saling bantu, saling mengisi, dan menjaga hubungan baik antar keluarga maupun sesama masyarakat,” tegas aktivis adat ini.
Megawati juga menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya, tradisi Sangkai Kambang ini sangat menjunjung tinggi asas kesepakatan. Pihak yang akan memberikan tidak boleh memaksakan kehendak.
“Prosesnya harus melalui komunikasi terlebih dahulu. Pihak pemberi menanyakan kesediaan pihak penerima. Jadi murni atas dasar persetujuan bersama, tidak ada unsur paksaan. Ini menunjukkan bahwa budaya kita sangat menghormati hak dan kenyamanan sesama,” paparnya.
Keberadaan tradisi ini dinilai sangat efektif mempererat tali silaturahmi dan kerukunan. Dalam setiap acara, terlihat jelas semangat gotong royong dimana setiap keluarga saling bahu-membahu meringankan beban biaya penyelenggaraan acara.
Sebagai seorang penggiat budaya dan pemerhati masyarakat adat, Megawati sangat mengapresiasi langkah komunitas-komunitas akar rumput, khususnya yang mulai bangkit di wilayah Kotawaringin Timur (Kotim), yang berupaya menghidupkan kembali nilai-nilai ini.
“Kita sebagai generasi penerus harus pandai memilih. Budaya atau kebiasaan yang negatif seperti judi, mabuk-mabukan, atau hal-hal yang merusak masa depan, itu tidak perlu kita lestarikan, justru harus kita hilangkan. Tapi yang memiliki nilai positif, yang membangun, yang mengajarkan saling bantu seperti Sangkai Kambang atau Handep ini, justru wajib kita jaga, kita bangkitkan, dan kita wariskan ke anak cucu,” tegasnya.
Megawati berharap, kebangkitan tradisi ini tidak hanya menjadi atraksi semata, tetapi benar-benar dipahami maknanya oleh generasi muda.
“Handep atau Sangkai Kambang melambangkan bahwa kita orang Dayak itu kuat karena bersatu. Kita maju karena saling membantu. Semoga budaya luhur ini terus lestari, menjadi identitas kita yang membanggakan, dan membawa dampak baik bagi kehidupan bermasyarakat,” pungkas Ketua Umum ADB ini. (ig).










