Muara Teweh — Tragedi pembantaian satu keluarga di perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah memasuki fase kritis. Satu-satunya korban selamat kini harus menjalani operasi besar akibat luka serius pada bagian paru-paru, sementara aparat kepolisian masih memburu para pelaku.
Insiden berdarah yang terjadi di kawasan Timber Dana, Minggu (19/4/2026) sore, menewaskan lima orang di tempat. Satu korban lainnya, Alfian (40), selamat namun dalam kondisi kritis dan dirawat intensif di RSUD Muara Teweh.

Informasi terbaru menyebutkan kondisi korban memburuk akibat luka berat di bagian vital.
“Paru-parunya luka, harus dioperasi,” ungkap sumber keluarga korban.
Operasi darurat dijadwalkan pada malam hari, menandakan tingkat keparahan cedera yang dialami korban.
“Jam 20.00 WIB katanya malam ini operasinya,” ujar pihak keluarga.
Peristiwa ini terjadi secara brutal. Berdasarkan keterangan saksi, sekelompok orang mendatangi lokasi dan langsung melakukan serangan menggunakan senjata tajam setelah menanyakan identitas korban.
Saksi mata yang merupakan kerabat korban menggambarkan situasi mencekam saat kejadian.
“Saya sempat melarikan diri saat penyerangan berlangsung,” ujarnya.
Korban yang tewas terdiri dari orang dewasa hingga anak-anak, termasuk seorang balita berusia tiga tahun—menunjukkan tingkat kekerasan yang ekstrem.
Kapolres Barito Utara, AKBP Singgih Febiyanto, memastikan kasus ini menjadi prioritas penanganan.
“Kami yakin pelaku pasti tertangkap,” tegasnya.
Meski demikian, hingga kini kepolisian belum mengungkap motif pembunuhan maupun identitas pelaku. Penyidik masih melakukan pendalaman dan mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi.
Kasat Reskrim AKP Ricky Hermawan meminta publik bersabar.
“Masih dalam penanganan dan penyelidikan,” katanya singkat.
Belum terungkapnya motif pembantaian memicu kekhawatiran publik, terutama karena lokasi kejadian berada di wilayah perbatasan yang relatif terpencil.
Kasus ini tidak hanya menyoroti aspek kriminalitas, tetapi juga membuka pertanyaan soal keamanan di kawasan perbatasan dan respons cepat aparat dalam situasi darurat.
Dengan satu korban masih berjuang di ruang operasi dan lima lainnya telah kehilangan nyawa, tekanan terhadap aparat penegak hukum meningkat untuk segera mengungkap pelaku dan motif di balik pembantaian tersebut.







