MUARA TEWEH — Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, memprioritaskan pembangunan tiga jembatan strategis dalam skema proyek multiyears sebagai upaya mempercepat konektivitas wilayah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Tiga proyek yang menjadi fokus utama yakni Jembatan Tumpung Laung, Jembatan Lemo, dan Jembatan Lahei. Infrastruktur tersebut dinilai krusial karena berkaitan langsung dengan mobilitas orang dan distribusi barang di wilayah yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses.

Bupati Barito Utara, Shalahuddin, menegaskan proyek multiyears bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan strategi jangka panjang yang harus dirancang secara matang.
“Pelaksanaan pekerjaan multiyears harus direncanakan secara serius, dengan data teknis yang lengkap dan akurat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas agar proyek bernilai besar tersebut tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci agar program ini benar-benar memberikan manfaat,” katanya.
Secara strategis, pembangunan tiga jembatan ini diposisikan sebagai pengungkit utama pembukaan akses antarwilayah, khususnya kawasan seberang Sungai Barito yang selama ini relatif terisolasi.

Namun, skema multiyears juga membawa tantangan klasik: konsistensi pendanaan, kesiapan teknis, hingga risiko keterlambatan proyek. Dengan nilai investasi besar dan durasi panjang, proyek semacam ini kerap menjadi sorotan terkait efektivitas dan pengawasan.
Di sisi lain, pemerintah daerah optimistis proyek tersebut mampu mendorong pemerataan pembangunan dan meningkatkan aktivitas ekonomi lokal jika dieksekusi sesuai rencana.
Paparan proyek multiyears di hadapan DPRD menjadi titik krusial untuk menguji kesiapan perencanaan, termasuk kelayakan teknis, skema anggaran, serta proyeksi dampak ekonomi.
Tanpa perencanaan detail dan pengawasan ketat, proyek berisiko menjadi beban fiskal jangka panjang. Sebaliknya, jika dikelola dengan baik, pembangunan tiga jembatan ini berpotensi menjadi tulang punggung konektivitas baru di Barito Utara.
Ambisi percepatan infrastruktur melalui skema multiyears menempatkan pemerintah daerah pada dua sisi: peluang akselerasi pembangunan dan risiko kegagalan tata kelola.
Ukuran keberhasilan tidak berhenti pada pembangunan jembatan, tetapi pada sejauh mana proyek tersebut benar-benar membuka akses, menurunkan biaya logistik, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata.











