Ziarah Paskah di TPU Km 12, Antara Iman, Tradisi, dan Ruang Ekonomi Musiman

oleh

Palangka Raya — Ribuan umat Kristiani memadati TPU Kristen Km 12, Jumat (3/4/2026). Tradisi ziarah menjelang Paskah kembali berlangsung, bukan sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi pertemuan antara iman, budaya, dan dinamika sosial masyarakat.

Sejak pagi hingga malam, peziarah berdatangan membawa bunga, lilin, dan perlengkapan ziarah. Mereka membersihkan makam, menabur bunga, serta memanjatkan doa di pusara keluarga yang telah meninggal. Aktivitas ini terpusat di sejumlah lokasi, terutama TPU Km 12 dan Km 2,5 di Jalan Tjilik Riwut.

Salah seorang peziarah, Odrey, menyebut tradisi ini sebagai bagian tak terpisahkan dari perayaan Paskah.

“Membersihkan makam dan berdoa sudah menjadi kebiasaan sejak dulu. Ini cara kami mengenang keluarga sekaligus menghayati makna Paskah,” ujarnya.

Lebih dari Sekadar Ziarah

Ziarah tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari rangkaian iman yang dimulai sejak Jumat Agung hingga puncaknya pada Paskah.

Tradisi ini bahkan berlanjut hingga Sabtu Suci, di mana sebagian umat memilih bermalam di area pemakaman, sebelum mengikuti ibadah Paskah pada Minggu pagi.

“Biasanya setelah ibadah Jumat Agung kami langsung ke makam, bahkan ada yang bermalam sampai Minggu pagi ibadah di sini,” kata seorang peziarah lainnya.

Secara teologis, ziarah menjadi bentuk refleksi atas wafat dan kebangkitan Yesus Kristus—inti dari iman Kristiani. Namun dalam praktiknya, tradisi ini juga berkembang sebagai ruang mempererat hubungan keluarga.

“Kami datang sekeluarga. Ini bukan hanya ziarah, tapi juga momen berkumpul,” ujar Yosua, peziarah lainnya.

Ruang Sosial yang Hidup

Di luar aspek spiritual, TPU Km 12 berubah menjadi ruang sosial yang dinamis. Interaksi antar keluarga, komunitas, hingga lintas generasi terjadi dalam satu ruang yang sama.

Pengamat sosial menilai, tradisi ini menunjukkan bagaimana ritual keagamaan juga berfungsi sebagai perekat sosial.

“Ziarah seperti ini bukan hanya hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memperkuat solidaritas keluarga dan komunitas,” ujarnya.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa pemakaman tidak lagi sekadar ruang sunyi, tetapi menjadi ruang hidup yang sarat makna kolektif.

Berkembang Jadi Ruang Ekonomi

Lonjakan peziarah juga menghadirkan dampak ekonomi. Di sepanjang akses menuju TPU, pedagang musiman menjajakan bunga, lilin, hingga makanan dan minuman.

Seorang pedagang, Ida, mengaku momen Paskah menjadi salah satu periode paling ramai dalam setahun.

“Bunga dan lilin laris dibeli peziarah. Setiap Paskah pasti ramai seperti ini,” ujarnya.

Harga bunga dan lilin pun bervariasi, menyesuaikan kebutuhan peziarah. Fenomena ini menunjukkan bagaimana ritual keagamaan turut menggerakkan ekonomi informal masyarakat.

Tradisi yang Terus Bertahan

Tradisi ziarah Paskah di Palangka Raya bukanlah hal baru. Ia telah berlangsung turun-temurun dan tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Di era modern, ketika pola hidup semakin praktis, tradisi ini justru menunjukkan ketahanan nilai-nilai spiritual dan budaya.

Ziarah menjadi pengingat bahwa Paskah tidak hanya dirayakan di gereja, tetapi juga di ruang sunyi—di antara nisan, doa, dan kenangan.

Di TPU Km 12, makna itu terasa nyata: bahwa kematian bukan akhir, melainkan bagian dari perjalanan iman yang terus hidup dalam ingatan, tradisi, dan kebersamaan.

banner 336x280