Palangka Raya — Ketergantungan tinggi terhadap pasokan barang dari luar daerah kembali menjadi sorotan sebagai pemicu utama tekanan inflasi di Kota Palangka Raya. Struktur distribusi yang rapuh membuat harga kebutuhan pokok mudah bergejolak, terutama saat terjadi gangguan logistik atau lonjakan permintaan.
Kondisi ini dinilai bukan persoalan jangka pendek, melainkan masalah struktural yang berulang setiap tahun. Ketika pasokan tersendat, dampaknya langsung terasa pada kenaikan harga di tingkat konsumen.

Anggota DPRD Kota Palangka Raya, Khemal Nasery, menegaskan tekanan inflasi tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi banyak faktor, termasuk distribusi dan ketersediaan energi.
“Inflasi yang terjadi di Kota Palangka Raya saat ini tergolong cukup tinggi dan dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya kelangkaan energi,” ujarnya.
Menurutnya, gangguan pada distribusi—termasuk kelangkaan BBM—berdampak langsung pada kenaikan harga barang di pasaran.
“Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat melalui meningkatnya harga kebutuhan sehari-hari, sementara daya beli justru menurun,” kata Khemal.
Sejumlah komoditas utama di Palangka Raya masih bergantung pada suplai dari luar daerah. Ketika distribusi terganggu, tidak ada bantalan produksi lokal yang cukup kuat untuk menahan lonjakan harga.
Kondisi ini memperbesar risiko inflasi, terutama pada kelompok bahan pangan strategis yang sensitif terhadap biaya transportasi dan ketersediaan barang.
Tekanan harga tidak hanya tercermin dalam data statistik, tetapi dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah. Kenaikan harga kebutuhan pokok mempersempit ruang konsumsi dan menekan daya beli.
Khemal menilai, situasi ini harus direspons cepat oleh pemerintah daerah.
Ia mendorong langkah konkret seperti operasi pasar, intervensi distribusi, dan penguatan ketersediaan barang di pasar.
Pengendalian inflasi di Palangka Raya dinilai tidak cukup dengan intervensi jangka pendek. Penguatan produksi lokal dan perbaikan sistem distribusi menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar.
Tanpa pembenahan tersebut, tekanan inflasi berpotensi terus berulang—terutama saat terjadi gangguan pasokan atau momentum peningkatan konsumsi masyarakat.





