JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menerima laporan realisasi investasi nasional kuartal I-2026 yang mencatat capaian di atas target pemerintah. Kinerja ini dinilai menjadi sinyal kuat daya tarik ekonomi Indonesia di tengah tekanan global.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, melaporkan realisasi investasi mencapai Rp498,79 triliun atau 100,36 persen dari target Rp497 triliun. Angka tersebut tumbuh 7,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Realisasi investasi di kuartal pertama mencapai Rp498,79 triliun atau 100,36 persen dari target Rp497 triliun, dan itu meningkat 7,22 persen year on year,” ujar Rosan.
Lonjakan investasi turut mendorong penyerapan tenaga kerja. Sepanjang tiga bulan pertama 2026, investasi berhasil menyerap 706.569 tenaga kerja, meningkat 18,93 persen secara tahunan.
Kinerja ini memperkuat peran investasi sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi sekaligus penciptaan lapangan kerja baru.
Dari total realisasi tersebut, komposisi investasi relatif seimbang antara penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA). PMDN tercatat sekitar Rp248,84 triliun atau 49,89 persen, sementara PMA sebesar Rp249,94 triliun atau 50,11 persen.

Sektor yang menjadi magnet utama meliputi industri logam dasar, pertambangan, jasa, hingga transportasi dan telekomunikasi.
Pemerintah menargetkan peningkatan signifikan investasi nasional dalam lima tahun ke depan. Total target investasi periode 2025–2029 dipatok lebih dari Rp13.000 triliun, jauh di atas capaian dekade sebelumnya sekitar Rp9.100 triliun.
Capaian kuartal I ini menjadi indikator awal bahwa target ambisius tersebut masih berada di jalur yang realistis.
Di sisi lain, Presiden Prabowo menekankan pentingnya menjaga iklim investasi yang kompetitif, termasuk penyederhanaan regulasi dan penerapan standar global guna memastikan arus modal tetap terjaga dan berdampak langsung pada ekonomi riil.
Lewati ke konten





