Harga Gas Non Subsidi Melambung, UMKM Desak Solusi Cepat

oleh

PALANGKA RAYA — Kenaikan harga gas non subsidi mulai menekan daya tahan pelaku usaha kecil di Kalimantan Tengah. Biaya operasional meningkat tajam, sementara kemampuan menyesuaikan harga jual terbatas.

Sejumlah pelaku usaha mengaku kenaikan harga gas berdampak langsung pada keberlangsungan usaha, terutama sektor kuliner yang sangat bergantung pada LPG non subsidi.

“Kenaikan ini sangat terasa, biaya produksi naik, tapi kami tidak bisa langsung menaikkan harga jual,” keluh salah satu pelaku usaha.

Lonjakan harga LPG non subsidi mendorong peningkatan biaya produksi dan distribusi. Kondisi ini membuat margin usaha semakin tergerus, bahkan berpotensi mengganggu kelangsungan bisnis skala kecil.

Kenaikan harga gas ukuran 12 kg dan 5,5 kg disebut berdampak signifikan bagi pelaku UMKM, khususnya yang bergantung pada konsumsi energi tinggi.

Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga atau memberikan kebijakan yang meringankan beban pelaku usaha.

“Kami berharap ada solusi cepat, supaya usaha kecil tetap bisa bertahan dan tidak tutup,” ujar warga.

Pelaku usaha juga meminta adanya pengawasan distribusi dan kebijakan harga yang lebih berpihak pada sektor produktif.

Jika tidak segera diatasi, lonjakan harga gas non subsidi dikhawatirkan berdampak lebih luas terhadap perekonomian daerah, termasuk penurunan aktivitas usaha dan daya beli masyarakat.

Kenaikan biaya energi disebut memiliki efek berantai terhadap harga barang dan jasa, serta menekan sektor usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

banner 336x280