JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak tawaran pinjaman dari International Monetary Fund dan World Bank yang nilainya mencapai puluhan miliar dolar AS atau setara ratusan triliun rupiah. Pemerintah menilai kondisi fiskal Indonesia masih solid dan belum membutuhkan tambahan utang.
Penolakan itu disampaikan usai pertemuan dengan kedua lembaga internasional dalam forum Spring Meeting di Washington DC. IMF dan Bank Dunia menawarkan fasilitas pinjaman sekitar US$20–30 miliar untuk negara-negara yang membutuhkan dukungan di tengah ketidakpastian global.

Namun, Purbaya menegaskan Indonesia masih memiliki bantalan fiskal yang cukup kuat, termasuk cadangan kas negara dan saldo anggaran lebih (SAL) yang besar.
“Saya bilang… sekarang saya belum butuh karena kita masih punya cadangan,” ujarnya.
Ia menyebut pemerintah saat ini memiliki cadangan sekitar US$25 miliar atau setara lebih dari Rp400 triliun, yang dinilai cukup untuk menjaga stabilitas APBN tanpa harus bergantung pada utang luar negeri.
Selain itu, pemerintah juga telah melakukan berbagai langkah penguatan fiskal, mulai dari efisiensi belanja hingga optimalisasi penerimaan negara, termasuk dari sektor sumber daya alam.
“Kita jelasin ada penghematan dan tambahan pendapatan… jadi kita masih aman,” kata Purbaya.
Penolakan ini menegaskan sikap pemerintah yang memilih menjaga kemandirian fiskal di tengah tekanan global, sekaligus menghindari ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal.
Langkah tersebut juga mencerminkan kepercayaan diri pemerintah terhadap ketahanan ekonomi domestik, dengan target pertumbuhan tetap terjaga meski menghadapi risiko geopolitik dan fluktuasi harga komoditas global.





